Hari ini aku mendapatkan makna dari kolegalitas, senioritas, dan profesionalisme melalui pertandingan basket. Bahkan aku dapat mengurutkan berdasarkan peringkatnya, walau dengan tidak bahagia aku terpaksa menyebutkanya..
Jumat 24 Februari 2012 aku sangat menantikan event ini, setelah cidera dan tidak bisa bermain tahun lalu, akhirnya aku berdiri untuk pertandingan pertama basket Dekan Cup FKUB. Menit-menit awal berjalan lancar walau kami turun tidak dengan formasi terbaik kami biasanya, tim kami dari tahun pertama diinfiltrasi 2 pemain lain, pemain yang cukup berkompeten, tetapi juga tidak lebih baik dari kami yang duduk di cadangan. Beberapa ungkapan kudengar bijaksana 'menghormati senior, membiarkan senior main' atau 'kita masih punya kesempatan main di pertandingan berikutnya yang lebih gampang', sampai akhirnya aku merasa ungkapan tersebut jenaka.
Setelah cukup unggul, kami rotasi tim besar besaran, dan aku belum ikut main. Kondisi yang cukup timpang, sampai keunggulan tidak dapat dipertahankan, aku mulai masuk, cukup 1 menit dan lawan mulai mengejar.. akirnya aku digantikan tim inti yang tetap ingin main walau sudah sangat capek, berharap tempo kembali memihak kami. Padahal sebenarnya aku ingin bermain dengan di support tim inti..
Walaupun disebut tim inti, mereka setengah mati.. Tidak semua diisi pemain berkualitas, Semua mulai kehabisan nafas. Tidak ada yang merasa bermain jelek, dan tidak merasa ada kolega yang masih dapat mendukungnya di bangku cadangan. Beberapa pemain akhirnya diganti dengan kualitas yang jauh di bawahnya.. entah apa pikiran mereka..
Aku mulai mempertanyakan apa makna kolega? karena jika kolega, biarkan semua bermain rata..
Aku mempertanyakan apa makna profesionalitas? jika ingin menang mainlah dengan pemain berkualitas..
tapi sayang, banyak kawanku yang sungkan pada senior, tetap diam tanpa inisiatif dan tetap bertahan pada keadaan.. Sembari memaksakan diri sampai titik penghabisan..
Sangat jujur aku kecewa, kecewa dengan keadaan, kecewa karena tidak main, dan kecewa.... karena kita kalah...
Sayang aku bukan superstar, sehingga tidak berani memaksakan kehendak. Aku juga bukan koordinator, yang bisa dengan bebas mengatur rotasi sampai puas. Aku hanyalah aku, yang pulang dengan kecewa..
Akhirnya kudapatkan ranking satu untuk senior, rangking dua untuk egoisme, dan tidak penting untuk menjadi profesional. Setidaknya kesimpulanku cukup mencerminkan dunia kedokteran sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar