Selasa, 24 April 2012

Kolegalitas, Senioritas, dan Profesionalisme

Hari ini aku mendapatkan makna dari kolegalitas, senioritas, dan profesionalisme melalui pertandingan basket. Bahkan aku dapat mengurutkan berdasarkan peringkatnya, walau dengan tidak bahagia aku terpaksa menyebutkanya..
Jumat 24 Februari 2012 aku sangat menantikan event ini, setelah cidera dan tidak bisa bermain tahun lalu, akhirnya aku berdiri untuk pertandingan pertama basket Dekan Cup FKUB.  Menit-menit awal berjalan lancar walau kami turun tidak dengan formasi terbaik kami biasanya, tim kami dari tahun pertama diinfiltrasi 2 pemain lain, pemain yang cukup berkompeten, tetapi juga tidak lebih baik dari kami yang duduk di cadangan. Beberapa ungkapan kudengar bijaksana 'menghormati senior, membiarkan senior main' atau 'kita masih punya kesempatan main di pertandingan berikutnya yang lebih gampang', sampai akhirnya aku merasa ungkapan tersebut jenaka.
Setelah cukup unggul, kami rotasi tim besar besaran, dan aku belum ikut main. Kondisi yang cukup timpang, sampai keunggulan tidak dapat dipertahankan, aku mulai masuk, cukup 1 menit dan lawan mulai mengejar.. akirnya aku digantikan tim inti yang tetap ingin main walau sudah sangat capek, berharap tempo kembali memihak kami. Padahal sebenarnya aku ingin bermain dengan di support tim inti..
Walaupun disebut tim inti, mereka setengah mati.. Tidak semua diisi pemain berkualitas, Semua mulai kehabisan nafas. Tidak ada yang merasa bermain jelek, dan tidak merasa ada kolega yang masih dapat mendukungnya di bangku cadangan. Beberapa pemain akhirnya diganti dengan kualitas yang jauh di bawahnya.. entah apa pikiran mereka..
Aku mulai mempertanyakan apa makna kolega? karena jika kolega, biarkan semua bermain rata..
Aku mempertanyakan apa makna profesionalitas? jika ingin menang mainlah dengan pemain berkualitas..
tapi sayang, banyak kawanku yang sungkan pada senior, tetap diam tanpa inisiatif dan tetap bertahan pada keadaan.. Sembari memaksakan diri sampai titik penghabisan..
Sangat jujur aku kecewa, kecewa dengan keadaan, kecewa karena tidak main, dan kecewa.... karena kita kalah...
Sayang aku bukan superstar, sehingga tidak berani memaksakan kehendak. Aku juga bukan koordinator, yang bisa dengan bebas mengatur rotasi sampai puas. Aku hanyalah aku, yang pulang dengan kecewa..
Akhirnya kudapatkan ranking satu untuk senior, rangking dua untuk egoisme, dan tidak penting untuk menjadi profesional. Setidaknya kesimpulanku cukup mencerminkan dunia kedokteran sekarang.

Rabu, 04 April 2012

Reaksi

Ini cuma cerita dari dua kutub yang ada, akankah satu sama lain akan membuat tiada?
Seperti pada umumnya setiap sikap tidak luput dari perangkap, selalu ada berbagai presepsi dan reaksi yang membekap. Dalam suatu bekapan terdapat dilema logika dan rasa yang bekerja bersama sama.
Saat logika bertahan, bertempur dengan perasaan dan harapan, semakin memperumit keadaan. Dan terkadang membuat kita membenci pilihan. Mungkin logika berkata harapan sudah tiada tapi perasaan tetap bertahan dan ingin terwujud pada tindakan nyata. Bukan masalah hitam dan putih, benar dan salah atau layak dan tidak, hanya karena rasa yang ingin mewujudkan kasih setia, akhirnya terwujud dalam tindakan nyata yang diharap baik untuk semuanya.
Karenanya, bagaimana kita melakukannya pasti ada satu alasannya

Thailand : Liburan bersama teman


RABU 14 MARET 2012
Pagi yang cerah, tidak terasa sudah jam 7 pagi dan alarmku tak berbunyi seperti biasanya. Tubuhku bangun begitu saja dan darahku berdesir tak sabar memulai perjalanan dengan beberapa kawan. Adys, Neshya, Seravina, Yudha, Bagus, dan Putra. Perjalanan yang tak terlupakan..
Setelah slesai berkemas dan memastikan tak ada yang tertinggal, saya langsung berangkat ke rumah Yudha. Disana kita berkumpul terlebih dahulu, sampai akhirnya 10.50  kita berangkat menuju juanda. Setelah sampai juanda, kita langsung check –in dan makan siang. Setelah itu kami menuju boading room. Tidak disangka kami hampir terlambat, karena tidak menyangka keberangkatan akan lebih cepat 25 menit dari jadwal di tiket. Untungnya kami masih sempat memenuhi panggilan ‘last call’ dengan berlari lari.
Pk 15.20 Pesawat mengudara, terbang membentuk sudut 450 degan cakrawala. Kami melaju cepat, sedikit berguncang dan meliuk bak roller coster sampai pesawat menemukan jalurnya. Pertama kalinya kulihat suramadu dari 1000 kaki, menjadi penghubung daratan jawa dan Madura. Menjadi tanda kami mulai meninggalkan jawa. Ku melihat sedikit kebawah, Menikmati perpisahan dengan tanah. Awan awan kecil berarak dan mengiringi keberangkatan kami sampai kami cukup tinggi meninggalkannya. Cukup tinggi sampai lapisan awan utuh yang bermandikan cahaya. Menurutku cuaca cukup cerah, terang dan indah. entah mengapa kru pesawat mengatakan yang sebaliknya. Aku tak ambil pusing, masih ad 4 jam di dalam pesawat, dan aku memilih tidur menghabiskannya
 
Pk 19.00 Kita landing di bandara Suvarna Bumi, Bangkok. Bandara yang bagus dan indah, tidak kalah dengan Changi milik Singapura tetapi keramahannya masih kurang mengena. Begitu datang, kita berfoto dulu baru melanjutkan ke imigrasi dan bagasi. Setelah semua selesai kami keluar bandara, mencari tourguide yang memegang kertas bertuliskan Milanitalia Gadys Rosandy. Nama yang terlalu panjang untuk sebuah kertas. :p.
Pemandu kami seorang wanita, bernama Ying, dia langsung mengajak kami makan di food court  bandahara dan memberikan voucher 100 bath untuk setiap orang. Aku pun penasaran,tidak sabar mencoba makanan Thailand. Aku sih enak tidak sulit mencari makanan, tapi teman temanq kesulitan mencari yang halal. Akhirnya pilihanku jatuh pada nasi bebek, cukup enak sebagai hidangan pembuka, tetapi lemak bawah kulitnya sangat tebal. Makan malam yang akrab, diiringi celotehan Yudha yang selalu menirukan logat tourguide kami. Tak hentinya kami terbahak bahak.
Perjalanan dari bandahara menuju hotel Twin Tower memakan waktu kurang lebih 30 menit. Aku masih merasa asing dan juga sedikit pusing. Akan tetapi teman ingin menjelajah kehidupan malam di Thailand.  Kesan pertama mengatakan bahwa hotel ini bagus (ya jelas bintang 4 loh..) Tapi setelah masuk kamar, bau karpet yang tidak enak menyeruak. Dan perasaanku langsng tidak enak. 

Karena tak mau sendirian di hotel, aku ikut teman-teman ke Hard Rock CafĂ© Bangkok. Disana aku memeasan burger termahal dalam hidupku, Legendary burger seharga 210 ribu. Porsinya sangat besar, akan tetapi rasanya biasa saja. Dengan penuh perjuangan aku menghabiskannya. Setelah itu aku merasa sedikit  mual, sakit di tengorokan, lebih sakit di kantong karena harganya :p. Hard Rock menjadi keramaian tersendiri di tengah kota yang sepi. Mal mal sudah tutup jam 9 dan jam 10 jalan pun sepi sudah. Kami berkenalan dengan penyanyi kafe yang ternyata juga asli dari Indonesia, setelah itu kami diperlakukan istimewa, dan kami diakui ada.
Pk 24.00 Aku, Gadys, Neshya, dan Vina kembali dahulu ke hotel. Aku tak biasa dengan keramaian seperti itu, dan aku merasa tida enak badan. Sesampai di hotel aq langsung minum amoxycillin dan tidur, berharap cepat pulih. Akan tetapi malam begitu panjang dan menyiksa, beberapa kali aku terbangun dan tidak bisa tidur karena hidung buntu. Bau karpet yang menggangu membuat kondisiku bertambah buruk.
Kamis 15 Maret

Bangun pagi dengan perasaan yang tidak enak, sedikit mual, flu dan hidung tersumbat, dan amoxycillin adalah satu satunya harap. Bergegas aku turun bersama Adys, Neshya, dan Vina untuk menikmati breakfast di hotel. Ku berkeliling mencari menu yang ringan, karena perut tak mampu mencerna yang berat, dan mual membuat kerongkongan tak mau menelan. Syukurlah setelah makan pagi dan amox yang mulai bekerja, perlahan aku siap menghadapi hari ke 2 di Thailand.
 Pk 08.00 kami mulai meninggalkan hotel menuju Grand Palace. Grand palace adalah istana kerajaan Thailand yang lama, terdapat kuil, istana, dan penjara di dalamnya. Kami hanya berfoto di luar, karena untuk masuk kami masih harus membayar 400baht dan tour tidak memberikan waktu. Di sana kami bertemu dengan 2 orang biksu asal Indonesia yang ternyata juga sedang melakukan kunjungan wisata. Dari Grand Palace kami menyebrangi sungai Chao Phraya menuju Wat Arun, sebuah kuil Buddha yang berornamentkan budaya hindu, sehingga kuil ini menyerupai Candi dengan anak tangga yang curam. Di sekeliling wat arun terdapat taman dan para penjual souvenir yang bagus untuk dijadikan oleh oleh. Setelah puas berfoto di Wat Arun, kami melanjutkan ke Wat Pho atau kuil buddha tidur. Wat Pho adalah patung Buddha tidur dengan lapisan luar emas murni. dengan panjang 46m dan tinggi 15m. Di Wat Pho ada tradisi unik, kami bisa membuang sial dengan melempar koin. 20 baht ditukarkan dengan ratusan satang (satang berbentuk koin, 1 baht 100 satang). Sekarang satang sudah sangat jarang digunakan dalam perdagangan. 
Grand Palace
Wat Pho




Wat Arun

 
Setelah berkeliling kuil di bangkok, pk 13.00 kami meluncur ke arah selatan menuju pattaya, sebuah pusat kota di pesisir teluk thailand. Perjalanan yang panjang ini tidak terasa karena kami mampir mampir dulu ke beberapa tempat, ada kebun anggur, laser buddha dan floating market. Laser Buddha adalah ukiran buddha pada sebuah tebing di gunung setinggi 130m. Ukiran dibuat dengan sinar laser, kemudian dibubuhkan ubin ubin berwarna emas.Floating market Pattaya merupakan pasar terapung terbesar di dunia, dengan luas 10 hektar, gubuk2 di dirikan di atas sungai. Keunikan pasar ini cukup memikat turis, pasar ini menjual berbagai macam ukiran, makanan, pakaian, dan sovenir.
Akhirnya sekitar pk17.00 kami tiba di hotel untuk mandi dan bersiap siap, karena 1 jam kemudian kami akan menonton Alcazar Cabarret Show, pertunjukan yang memukau tarian tarian oleh 'wanita' yang sejatinya pria. Para penari sangatlah profesional, operasi plastik dihalalkan untuk memuaskan penonton semata, senyum yang ramah, dan juga semangat dalam menari selalu di utamakan. Sayangnya kami mendapat kursi yang paling belakang, sehingga pertunjukan seharga 700 Baht ini sedikit terasa hambar. Setelahnya kami lanjut menonton adult show yang juga senilai 700 baht. Pertunjukan ini menampilkan adegan adegan bercinta, dan vitalitas alat kelamin performernya. Adegan-adegan nya seperti meniup terompet menggunakan vagina, memukul gendang dengan penis, bercinta sambil berayun, dan coz play spiderman, hingga jebakan batman, yang menjebak sukarelawan, untuk meraba raba banci. Setelah puas menonton kami lanjut ke hard rock store, kemudian balik hotel. Di malam ini, semua banci terlihat cantik dan mulus seperti wanita.
Perjalanan malam di Pattaya ternyata belum berhenti begitu saja, skr waktunya para lelaki bergerilya, keluar hotel dan berjalan di sekeliling pattaya, kanan-kiri jalan merupakan bar-bar dibarengi dengan wanita-wanita malam sebagai sarana promosinya. Ada juga yang namanya go go bar, yaitu bar tertutup dengan wanita berbusana minim yang menari dan menggeliat pada tiang. Cukup memberi segelas minum, maka wanita tersebut akan menemani Anda. Sayangnya perjalanan kami kurang lengkap, karena kami belum ke Walking Street yang benar-benar merupakan pusat hiburan malam.


 Jumat 16 Maret

Tetap semangat, walau 2 malam sebelumnya hanya tidur 4 jam, pukul enam pagi saya sudah bangun, karena pk7.30 kita harus berangkat menuju coral Island. Coral Island merupakan pulau di dalam teluk Thailand. perjalananya memakan biaya 300 baht, dan memakan waktu 30 menit menggunakan perahu motor.. Sebelumnya, kami singgah ke tempat bermain parasailing. Corral island pulau dengan pesisir pantai untuk berjemur, cocok buat berenang karena airnya biru jernih. Banyak juga permainan air seperti banana boat, parasailing, dan boat rent. Coral Island juga dipenuhi penjual makanan dan souvenir, di sini makanan dan souvenir cukup mahal.

Setelah puas menjelajah, pk12.00 siang kami balik hotel, mandi2, dan packing karena kami harus kembali ke bangkok. Di perjalanan ke Bangkok, kami mengunjungi Gem Shop dan Bee Farm. Gem Shop merupakan toko perhiasan terbesar di Thailand, disana kami diajak untuk melihat bagaimana terbentuknya batu batuan permata, banyak rupa batu seperti Topaz, Lapis Lazuli, Ruby, dan lain lain, dibentuk secara apik menjadi suatu perhiasan. Di Bee farm, kami diajari bagaimana membedakan madu yang asli dan yang bercampur air. Produk Bee farm adalah berupa madu, propolis, royal jelly dan turunan madu seperti coklat madu, sabun, ice cream. Uniknya madu di sini diambil dari sari bunga Opium, di Chiang Rai (Thailand bagian utara). Perjalanan kembali bangkok terasa lebih lama, kira-kira makan waktu 5 jam, di sana kita langsung ke MBK Mall, memberi beberapa oleh-oleh dan dinner KFC.

Sabtu 17 Maret
Hari ke empat adalah hari bebas kami bertujuh, hari ini kami tidak terikat jadwal tour. Kami pun mandiri menentukan pilihan.. yaitu... shopping.. Karena merasa tidak terikat, kami pun bangun siang, baru sekitar pukul 11 kami berangkat ke Cathucak naik taxi. Cathucak adalah week end market terbesar sedunia, mirip seperti pasar minggu di jl semeru Malang, tetapi jauh lebih besar. Dengan Luas sekitar 11 Hektar, pasar ini menjual berbagai macam barang dari seluruh penjuru Thailand, dengan harga Lokal yang tentunya sangat murah dibanding lokasi wisata lainnya. Cathucak sangat ramai, untungnya masih bersih dan teratur, karena para petugas sampah senantiasa berkeliling.
Setelah puas dengan Catuchak, para lelaki mencari baju bola Thailand di Indra Square, Pratunam. Sayangnya petunjuk yang kami dapat salah dan akirnya pulang dengan tangan hampa. Setelah itu kami menemani Putra kembali ke Hard Rock bangkok untuk membeli oleh oleh. Dan pk 17.00 kita sampai di hotel untuk beristirahat sejenak.
National Stadium
Malamnya, kita ke MBK lagi untuk shopping, tetapi saya memutuskan berpisah karena ingin wisata kuliner, sedangkan teman teman lain sudah makan. Saya mencoba Phat Thai, yg katanya termasuk 5 best food in the world di sebuah restoran China. enak.. apalagi ditambah udang yang segar dan besar, serta dibumbui cabe thailand. Setelah makan, tiba tiba muncul ide gila, yaitu berpetualang sendirian di jalanan. Dengan berbekal peta, saya mengitari kompleks mall Siam-Paragon-Pratunam. Di tengah jalan bertemu dengan sopir tuk-tuk (kendaraan mirip bajaj) saya ditanya turis dari mana, kemudian dia menawarkan pijat plus plus sembari menunjukan brosur. Tapi saya cuek terus berjalan, dan akhirnya mencoba sky train di Ratchadewi, turun di Siam. Kemudian oper  kereta menuju National Stadium yang jaraknya hanya sejengkal. Akhirnya kembali ke hotel jalan kaki, ternyata jarak dari Hotel dengan kompleks mall kami tidak begitu jauh, hanya 15 menit jalan kaki.



Minggu 18 Maret
Hari terakir kami habiskan di museum patung lilin Madamme Tussaud. Puas banget kami berfoto. Setelah itu saya menemani Vina belanja baju di hard rock, setelah itu kami sedikit berkeliling, mencari spot foto di paragon, dan akhirnya pulang dengan naik MRT dilanjut tuk-tuk. Dengan ini puas sudah mencoba hal hal menarik di Negeri Gajah.

Thailand, negeri yang menarik, dengan berbagai tempat sarat hiburan. unik, dengan berbagai kuil dan culturenya. Murah, harga harga barang dan cost life nya masih terjangkau. Makananya pun juga enak-enak. Bila nanti jodoh, aku kan kembali.