Senin, 12 Maret 2012

Plontos

Rambut itu mahkota... Apakah jadinya bila mahkota ditanggalkan?
Semuanya akan berubah, termasuk kehidupanmu juga. Dari fisik, loe terlihat lebih natural apa adanya. Lebih ganteng karena memang begitulah adanya. loe ngrasa jadi lebih pinter, karna rambut yang menutupi kepinteran loe udah sirna. Penghalang kasat matamu sudah runtuh. membuat pikiranmu lebih terbuka, mudah menyerap ilmu dan melihat hal hal gaib seperti jenglot dan kawan kawannnya.
Status sosial dan pekerjaan pun otomatis berubah, naik kasta dari sudra menjadi brahma, bergabung dengan kelompok bikhu, Nasibmu mungkin berubah, saat kamu berkunjung ke thailand suatu hari nanti. bakal terjadi sesuatu yang nggak loe duga, misalnya ditahan dalam kuil dan gak boleh kembali. Diusir-usir, ato parahnya dicekal gara2 loe mejeng di pattaya. You'll never know..
Hati-hati beberapa temen loe pasti bakal menjauh dan takut, mereka pasti berpikir 'ini pelarian dari LP mana??' ato mrk memegang erat2 uang dan barang2 berharga spy nggak di curi tuyul kemarin sore.


 Temen loe pasti kaget dan bertanya tanya apa yang mengubah hidup loe, ato nazar apa yang buat loe ngelakuin hal ini. But i dont have any reason to do this, no reason behind plontos. i just enjoy it, enjoy my new life and experience.

Sabtu, 03 Maret 2012

......

Ini adalah saat, saat ku tak tahu harus berkata kepada siapa. Ingin kucurahkan semua rasa di dada, rasa yang berkecamuk dan menyiksa, menghisap perlahan-lahan sampai kesadaranku yang paling dalam. Aku tak ingin menjauh, tak ingin lari ke ujung dunia, tapi ku tak tahu bagaimana mendekat, membuatmu tertawa dan bahagia. Hanya ada bayanganmu yang fana, berlalu-lalang dalam di benakku kapan saja dan sel kelabuku pun tak dapat mengontrolnya
Ku takut ini akan mencadi candu dalam diriku sepi yang bisu. Memberiku kenikmatan sementara di dalam kepedihan kekal. Ini kisah sedih dan pilu yang kutanggung, sebagai pemuja rahasiamu yang hanya bisa melihat indahmu dari sisi gelapku.

Ahh... Coba saja kutahu caranya, pasti kan kulakukan segalanya..

Titik


Lihat seberapa jauh kamu melangkah, dan lihat seberapa jauh kamu telah berjalan di titik ini? Apakah kamu masih menoleh ke titik sebelumnya, titik yang selalu melekat dan meresap kedalam hati, titik yang selalu kamu nanti dan inginkan untuk berakhir bersamanya.

Seringkali kita terpaku pada suatu titik, yang begitu mempesona dan sangat dipuja. Tak peduli logika sudah menolak, dan melangkah jauh daripadanya.  Membawa kita melangkah jauh sampai pada titik lainnya, kemudian membuat kita berjalan selangkah demi selangkah di titik itu.
Semakin menolak semakin terhisap pusaran titik awal. Dan akhirnya berjalan di tempat..

Saatnya kita berjalan, mencari persinggahan, dan mendapatkan titik lain, bukan titik yang baik, tetapi cukup sebagai persinggahan sementara, cukup untuk belajar dan menimba pengalaman. Seakan tak ingin lepas, sayup sayup titik itu memanggil, mengajak kita meninggalkan titik lain, magnetnya tak pernah rela melepas kita.

Kita pun tenggelam dalam pusaran magnet dua buah titik. Kita terlempar, kemudian hancur berkeping keping, berjalan tertatih dan mengalami metamorfosis alami. Kita terus berjalan penuh harapan.. berharap akan sampai pada titik yang baru...

Titik bukan suatu alfa, tetapi kita harap akan menjadi omega. Titik akhir tujuan kita. Dalam titik itu kita mulai merangkai titik demi titik dan membuat sebuah garis tanpa akhir.. Sampai akhir hayat.

Kamis, 01 Maret 2012

Hernita Kurniawan : Belajar Sebenarnya Dimulai dari Rumah

     Menjadi orang tua merupakan proses alamiah, tidak ada satupun sekolahan yang mengajarkan bagaimana menjadi orangtua yang baik. Sehingga para orang tua mendadak bingung jika dihadapkan pada pertanyaan "Bagaimana caranya mendidik anak dengan baik dan benar?" Untuk menjawab itu para orang tua kemudian belajar dari orang orang yang lebih tua. Mulai dari ayah-ibunya sampai kakek-neneknya. Karena setidaknya mereka dianggap lebih berpengalaman dan lebih tahu dan proses ini berlangsung turun temurun. Kondisi seperti inilah yang rawan menghasilkan kekeliruan presepsi, salah asuh, atau sedikitnya, ikut menghambat proses perkembangan kecerdasan anak secara maksimal.

     Masih banyak orang tua yang hanya fokus ke fisik. Karena fisik selalu lebih gampang, mudah dilihat dan langsung bisa dirasakan hasilnya. Padahal sebenarnya untuk membentuk anak lebih hebat, aspek otak lebih berperan penting. Karena otak inilah yang menjadi sentral bagi seluruh tubuh kita. Sayangnya hal ini sering tidak mendapat perhatian, mungkin karena otak letaknya ada di dalam sehinggga tidak kasat mata, dan cenderung terlupakan.
Pandangan masyarakat sering keliru dan diyakini oleh para orang tua. seperti misalnya, belajar dan pendidikan anak itu mesti menunggu usia sekolah. Padahal sebagai orang tua, perlu membedakan antara istilah learning dan education. kalau learning itu berlangsung sepanjang hidup kita dan mulai sejak lahir, sedangkan education baru dimulai saat anak sudah memasuki usia sekolah.

      Learning, telah dilakukan sejak lahir, dengan memanfaatkan kelima panca indra. Tugas orang tualah yang membantu merangsang panca indra tersebut. Kalau sudah berfungsi secara maksimal, maka anak akan belajar maksimal sekali dalam waktu cepat. Hal ini yang kurang dipahami para orangtua. Otak bayi dalam kondisi yang siap menerima dan menyerap, sampai waktunya dia mengeluarkan.
"Kalau benar demikian, bagaimanakah sesungguhnya cara bayi belajar?" Dari kelima panca indra manusia, 3 yang paling berpengaruh dalam kecerdasan adalah pengelihatan, pendengaran, dan perabaan. Dengan rangsangan khusus, akan muncul kemampuan language,  dan juga akan mempengaruhi kemampuannya untujk bergerak, berjalan, berlari, dan menulis.

     "Apa ruginya jika urusan belajar menunggu waktu sekolah?" Sebuah fakta yang perlu diketahui oleh para orangtua, yaitu 50% kecerdasan manusia sudah terbentuk di usia 4-6 tahun pertama. Dan ini hanya terjadi sekali seumur hidup, tidak bisa terulang. Oleh karena itu, usia 0-6 tahun adalah periode paling krusial untuk perkembangan seseorang. Walau begitu, para ahli mengatakan sampai usia dewasapun kita masih bisa mengembangkan otak, selama kita MASIH MAU menggunakan. Hanya saja soal kecepatan menyerap informasi tidak secepat 6 tahun pertama.

     Contohnya dalam belajar bahasa inggris, anak 13 tahun perlu effort yang sangat besar, belajar siang malam, melatih ucapan, menghafal tenses. Saat mau ngomong perlu menyiapkan dulu bahasa indonesianya, kemudian tensesnya dan mungkin karena ini banyak yang jadi tidak mampu berbicara inggris. Beda dengan anak yang hanya mendengar, dan menonton, bernyanyi, maka ia akan banyak menyerap. Kemudian ia masa bodoh dengan namanya tenses dan grammar, dan langsung ceplas ceplos, nggak ada beban sehingga dia meniru dengan mudahnya.

     Menurut Glenn Doman, mengajar anak itu sebenarnya sangat mudah, karena setiap anak yang lahir punya keinginan kuat untuk belajar. Bahkan seorang bayi lebih suka belajar daripada makan. Sejak umur 6 bulan, saat bayi mulai memegang sesuatu, kalo kita kasih benda apa pun pasti akan digigit atau dibolak balik, Kalau tangannya cukup kuat maka benda itu akan dilemparnya. Nah, sekarang saya tanya 'bayi itu sesungguhnya sedang bermain atau belajar?'

     Potensi belajar bayi sejak lahir sangatlah kuat. Oleh karena itu kalau bayi melihat barang apapun biasanya ingin diraih, dia pegang, dia amati. Akan tetapi ketertarikan bayi tidak pernah lebih dari 90 detik. Makanya dia mengharapkan dalam 90 detik benda itu harus berubah bentuk, karena ia ingin mengeksplorasi. Misalnya ketika kita kasih benda yang "bunyi krincing krincing" maka ia akan tertarik. tetapi tidak cukup benda itu berbunyi, karena ia ingin tahu kenapa kok bisa bunyi. Tetapi karena masih bayi, motoriknya belum sempurna, ia tidak bisa membongkar dan mengembalikan seutuhnya. Sehingga bayi hanya bisa merusak saja. Menurut orang dewasa bayi ini merusak mainannya, padahal ia ingin tahu apa yang bisa membuatnya berbunyi. Nah setelah benda itu dibanting sampai pecah, maka ia malah senang, karena bagi bayi begitu bendanya berubah, sesuatu yang menarik dan excited datang.

     Pesan yang ingin disampaikan adalah jangan menunggu sekolah untuk memulai pendidikan, dan menyerahkan segalanya kepada sekolah. Seharusnya orang tualah yang memegang peranan penting dalam pendidikan dan rumah adalah sekolah pertama bagi anak anak. Mari berikan kesempatan kepada anak anak agar belajar itu menarik dan fun. Dengan kesukaannya itulah anak anak bisa belajar apa saja, mengetahui apa saja, sehingga ia bisa berkembang pesat, kemudian rasa percaya dirinya tumbuh.

Sumber: Luar Biasa, Januari 2010