Kamis, 01 Maret 2012

Hernita Kurniawan : Belajar Sebenarnya Dimulai dari Rumah

     Menjadi orang tua merupakan proses alamiah, tidak ada satupun sekolahan yang mengajarkan bagaimana menjadi orangtua yang baik. Sehingga para orang tua mendadak bingung jika dihadapkan pada pertanyaan "Bagaimana caranya mendidik anak dengan baik dan benar?" Untuk menjawab itu para orang tua kemudian belajar dari orang orang yang lebih tua. Mulai dari ayah-ibunya sampai kakek-neneknya. Karena setidaknya mereka dianggap lebih berpengalaman dan lebih tahu dan proses ini berlangsung turun temurun. Kondisi seperti inilah yang rawan menghasilkan kekeliruan presepsi, salah asuh, atau sedikitnya, ikut menghambat proses perkembangan kecerdasan anak secara maksimal.

     Masih banyak orang tua yang hanya fokus ke fisik. Karena fisik selalu lebih gampang, mudah dilihat dan langsung bisa dirasakan hasilnya. Padahal sebenarnya untuk membentuk anak lebih hebat, aspek otak lebih berperan penting. Karena otak inilah yang menjadi sentral bagi seluruh tubuh kita. Sayangnya hal ini sering tidak mendapat perhatian, mungkin karena otak letaknya ada di dalam sehinggga tidak kasat mata, dan cenderung terlupakan.
Pandangan masyarakat sering keliru dan diyakini oleh para orang tua. seperti misalnya, belajar dan pendidikan anak itu mesti menunggu usia sekolah. Padahal sebagai orang tua, perlu membedakan antara istilah learning dan education. kalau learning itu berlangsung sepanjang hidup kita dan mulai sejak lahir, sedangkan education baru dimulai saat anak sudah memasuki usia sekolah.

      Learning, telah dilakukan sejak lahir, dengan memanfaatkan kelima panca indra. Tugas orang tualah yang membantu merangsang panca indra tersebut. Kalau sudah berfungsi secara maksimal, maka anak akan belajar maksimal sekali dalam waktu cepat. Hal ini yang kurang dipahami para orangtua. Otak bayi dalam kondisi yang siap menerima dan menyerap, sampai waktunya dia mengeluarkan.
"Kalau benar demikian, bagaimanakah sesungguhnya cara bayi belajar?" Dari kelima panca indra manusia, 3 yang paling berpengaruh dalam kecerdasan adalah pengelihatan, pendengaran, dan perabaan. Dengan rangsangan khusus, akan muncul kemampuan language,  dan juga akan mempengaruhi kemampuannya untujk bergerak, berjalan, berlari, dan menulis.

     "Apa ruginya jika urusan belajar menunggu waktu sekolah?" Sebuah fakta yang perlu diketahui oleh para orangtua, yaitu 50% kecerdasan manusia sudah terbentuk di usia 4-6 tahun pertama. Dan ini hanya terjadi sekali seumur hidup, tidak bisa terulang. Oleh karena itu, usia 0-6 tahun adalah periode paling krusial untuk perkembangan seseorang. Walau begitu, para ahli mengatakan sampai usia dewasapun kita masih bisa mengembangkan otak, selama kita MASIH MAU menggunakan. Hanya saja soal kecepatan menyerap informasi tidak secepat 6 tahun pertama.

     Contohnya dalam belajar bahasa inggris, anak 13 tahun perlu effort yang sangat besar, belajar siang malam, melatih ucapan, menghafal tenses. Saat mau ngomong perlu menyiapkan dulu bahasa indonesianya, kemudian tensesnya dan mungkin karena ini banyak yang jadi tidak mampu berbicara inggris. Beda dengan anak yang hanya mendengar, dan menonton, bernyanyi, maka ia akan banyak menyerap. Kemudian ia masa bodoh dengan namanya tenses dan grammar, dan langsung ceplas ceplos, nggak ada beban sehingga dia meniru dengan mudahnya.

     Menurut Glenn Doman, mengajar anak itu sebenarnya sangat mudah, karena setiap anak yang lahir punya keinginan kuat untuk belajar. Bahkan seorang bayi lebih suka belajar daripada makan. Sejak umur 6 bulan, saat bayi mulai memegang sesuatu, kalo kita kasih benda apa pun pasti akan digigit atau dibolak balik, Kalau tangannya cukup kuat maka benda itu akan dilemparnya. Nah, sekarang saya tanya 'bayi itu sesungguhnya sedang bermain atau belajar?'

     Potensi belajar bayi sejak lahir sangatlah kuat. Oleh karena itu kalau bayi melihat barang apapun biasanya ingin diraih, dia pegang, dia amati. Akan tetapi ketertarikan bayi tidak pernah lebih dari 90 detik. Makanya dia mengharapkan dalam 90 detik benda itu harus berubah bentuk, karena ia ingin mengeksplorasi. Misalnya ketika kita kasih benda yang "bunyi krincing krincing" maka ia akan tertarik. tetapi tidak cukup benda itu berbunyi, karena ia ingin tahu kenapa kok bisa bunyi. Tetapi karena masih bayi, motoriknya belum sempurna, ia tidak bisa membongkar dan mengembalikan seutuhnya. Sehingga bayi hanya bisa merusak saja. Menurut orang dewasa bayi ini merusak mainannya, padahal ia ingin tahu apa yang bisa membuatnya berbunyi. Nah setelah benda itu dibanting sampai pecah, maka ia malah senang, karena bagi bayi begitu bendanya berubah, sesuatu yang menarik dan excited datang.

     Pesan yang ingin disampaikan adalah jangan menunggu sekolah untuk memulai pendidikan, dan menyerahkan segalanya kepada sekolah. Seharusnya orang tualah yang memegang peranan penting dalam pendidikan dan rumah adalah sekolah pertama bagi anak anak. Mari berikan kesempatan kepada anak anak agar belajar itu menarik dan fun. Dengan kesukaannya itulah anak anak bisa belajar apa saja, mengetahui apa saja, sehingga ia bisa berkembang pesat, kemudian rasa percaya dirinya tumbuh.

Sumber: Luar Biasa, Januari 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar